Rindu Gunung dan Senja, Tapi Lebih Rindu Kamu

0
67

Gunung, Senja dan Kamu – Hmm sebenernya tulisan ini terinspirasi dari kiriman saya di Instagram saya @ichsani.id, walaupun saya nggak tau seperti apa nanti jadinya tulisan ini hihi..

Gunung adalah sesuatu yang sangat saya sukai, awal mula bertemu dengan gunung saya langsung jatuh hati padanya. Walaupun hingga saat ini hanya satu gunung yang pernah saya pijaki puncaknya, yakni gunung Lawu di Magetan. Sebenernya sudah beberapa gunung yang pernah saya singgahi, cuman nggak sampai pernah sampai menuju kepuncaknya.

Gunung menurut saya memiliki aura yang masih perawan, maksudnya udara disana masih sangat segar dan asri. Tempat yang nyaman untuk refleksi mata, menenangkan jiwa dengan bersanding dengan sunyi. Kadang penghuni asli gunung menyapa dengan teriakan yang nyaring, seakan mereka senang dengan kehadiran saya saat menyusuri alam mereka. Atau sebaliknya, mereka tak senang jika saya melewati alam mereka si hewan penghuni gunung asli tersebut.

Selain itu digunung kita bisa merasakan belaian angin dan embun yang terasa seperti pedang es, ia seakan menusuk jiwa yang sepi, membuatnya semakin sunyi, namun bedanya kesunyian di gunung akan mampu membuatmu tersenyum. Digunung kita juga bisa bermain – main air yang mengalir di sungai nan jernih, sejernih hati dan jiwamu, namun kedatangan ku rasanya hanya membuat air yang mengalir di sungai tersebut terasa keruh, seperti kutelah membuat jernihnya hatimu menjadi kelabu, hati yang hijau nan segar dengan paduan warna merah yang indah telah pudar kurenggut.

Saat kucapai puncak, aku mulai merasakan dingin, yang tidak pernah kurasakan saat berada di permukaan bumi yang datar. Sejuk namun kadang terlalu dingin, hingga kadang membuatku gemetar tak karuan, namun tiba tiba aku lupa dengan rasa dingin tersebut saat sekilas wajahmu mengintip dibalik sedikit embun yang tersisa.

Saat sore sudah mulai menjemput siang untuk istirahat, sinar senja membentang kan sayapnya begitu indah. Sungguh aku tak mampu menjelaskan keindahannya. Kaki dan tanganku terasa kaku melihatnya, mataku terpaku seakan aku lupa caranya berkedip, saraf mataku seakan patah dibuatnya. Sejenak hatiku kembali teringat denganmu, seandainya kamu bersamaku kala itu mungkin akan lebih indah.

Senja, dia begitu indah, mampu menyihir seluruh syaraf ku untuk berhenti sejenak. Keindahannya hampir membunuhku. Namun keindahannya hanya sementara. Senja… Kau tahu senja itu apa? Senja itu memang indah, namun kemudian dia pergi menyisakan petang yang menakutkan. Saat aku berfikir wajahmu ada di balik senja, aku takut kau juga akan segera pergi.

Walaupun malam itu aku tak perlu terrlalu khawatir dengan perginya senja, kuharap wajahmu masih disana, hanya tertutup oleh malam. Mungkin esok wajahmu akan kembali terlihat saat fajar mulai mendaki siang. Kau tahu, dia memang datang, tapi tak seindah senja yang dibaliknya ada wajahmu.

Kesimpulannya, Gunung dan Senja memang sangat indah, namun tetap saja, kamulah yang paling kurindukan… Namun yang paling menyedihkan kau tau apa? Ialah seorang yang kusebut “kamu” disini aku tidak tau siapa? Dia masih disana, digenggam oleh tangan Tuhan, yang menjaganya dari kebodohanku. Aku mau berbisik kepdanya, tapi tak pernah sampai… Semoga kelak kamu lah bidadariku, yang menjadi lentera terang dalam jiwaku, walau aku tak tahu siapakah kamu itu. 😅

Terima Kasih sudah rela membaca tulisan nggak jelas saya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here