Novel Ayat – Ayat Cinta

0
187

“Suamiku kau jangan ragu! Kau sama sekali tidak melakukan dosa. Yakinlah bahwa kau akan melakukan amal shaleh,” bisik Aisha.

Setelah itu aku menemui Madame Nahed dan Tuan Boutros. Mereka berdua menyambut kesediaanku dengan bahagia. Proses akad nikah dilaksanakan dalam waktu yang sangat cepat, sederhana, sesuai dengan permintaanku.

Seorang ma’dzun syar’i mewakili Tuan Boutros menikahkan diriku dengan Maria dengan mahar sebuah cincin emas. Saksinya adalah dua dokter muslim yang ada di rumah sakit itu.

Setelah itu dokter setengah baya memberikan petunjuk apa yang harus aku lakukan untuk membantu Maria sadar dari komanya. Aku minta hanya aku dan Maria yang ada di ruang itu. Aku wudhu dan shalat dua rakaat lalu berdoa di ubun-ubun
kepala Maria seperti yang aku lakukan pada Aisha. Aku hampir tidak percaya bahwa gadis Mesir yang dulu lincah, ceria dan kini terbaring lemah tiada berdaya ini adalah isteriku. Segenap perasaan kucurahkan untuk mencintainya. Aku membisikkan ke telinganya ungkapan-ungkapan rasa cinta dan rasa sayang yang mendalam. Aku lalu menciuminya seperti dia menciumiku waktu aku sakit. Tapi dia tetap diam saja. Aku lalu menangis melihat usahaku sepertinya sia-sia. Aku ingin melakukan lebih dari itu tapi tidak mungkin. Aku hanya bisa terisak sambil memanggil-manggil nama Maria.

Tiba-tiba aku melihat sujud mata Maria melelehkan air mata. Aku yakin Maria mulai mendengar apa yang aku katakan. Aku kembali menciumi tangannya. Lalu mencium keningnya.

“Maria, bangunlah Maria. Jika kau mati maka aku juga akan ikut mati. Bangunlah kekasihku! Aku sangat mencintaimu!” kuucapkan dengan pelan di telinganya dengan penuh perasaan. Kepalanya menggeliat, dan perlahan-lahan ia mengerjapkan kedua matanya. Aku memegang kedua tanganya sambil kubasahi dengan air mataku.

“F..f..Fahri..?”

“Ya, aku di sisimu Maria.”

Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Maria bisa bicara meskipun dengan suara yang lemah,
“Aku mendengar kau berkata bahwa kau mencintaiku, benarkah?”

“Benar. Aku sangat mencintaimu, Maria?”

“Kenapa kau pegang tanganku. Bukankah itu tidak boleh?”

“Boleh! Karena kau sudah jadi isteriku.”

“Apa?”

“Kau sudah jadi isteriku, jadi aku boleh memegang tanganmu?”

“Siapa yang menikahkan kita?”

“Ayahmu. Apa kau tidak mau jadi isteriku?”

Mata Maria berkaca-kaca, “Itu impianku. Aku merasa kita tidak akan bisa menikah setelah kau menikah dengan Aisha. Terus bagaimana dengan Aisha?”

“Dia yang mendorongku untuk menikahimu. Ini cincin yang ada di tanganmu adalah pemberian Aisha. Anggaplah dia sebagai kakakmu.”

“Aku tak menyangka Aisha akan semulia itu.”

“Fahri, aku mau minta maaf. Saat kau sakit dulu aku pernah men…”

“Aku sudah tahu semuanya. Tadi saat kau belum bangun aku sudah membalasnya.”

Maria tersenyum. “Aku ingin kau mengulanginya lagi. Aku ingin merasakannya dalam keadaan sadar.” Pinta Maria dengan sorot mata berbinar. Aku memenuhi permintaannya. Seketika wajahnya kelihatan lebih bercahaya dan segar.

“Maria.”

“Ya.”

“Berjanjilah kau akan mengembalikan semangat hidupmu.”

“Setelah aku menemukan kembali cintaku maka dengan sendirinya aku menemukan kembali semangat hidupku. Saat ini, aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa menjadi wanita paling berbahagia di dunia setelah sebelumnya merasa menjadi wanita paling sengsara.”

Aku melihat jam dinding. Satu jam lagi aku harus sampai di penjara. Dengan mata berkaca aku berkata, “Maria, aku keluar sebentar memberitahukan keadaanmu pada dokter, ayah ibumu dan Aisha.”

Maria mengangguk. Madame Nahed dan Tuan Boutros sangat berbahagia mendengar sadarnya Maria. Serta merta mereka berdua melangkah masuk diiringi dokter setengah baya. Kulihat Aisha duduk sendirian di bangku. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Aisha diam saja. Matanya basah.

“Kau menangis Aisha?”

Aisha diam seribu bahasa seolah tidak mendengar pertanyaanku.

“Kau menyesal dengan keputusanmu?”

Dia menggelengkan kepala.

“Kenapa kau menangis? Kau cemburu?”

Aisha mengangguk. Aku memeluknya, “Maafkan aku Aisha, semestinya kau tidak menikah denganku sehingga kau menderita seperti ini.”

“Kau jangan berkata begitu Fahri. Menikah denganmu adalah kebahagianku yang tiada duanya. Kau tidak bersalah apa-apa Fahri. Tak ada yang salah denganmu. Kau sudah berusaha melakukan hal yang menurutmu baik. Rasa cemburu itu wajar. Meskipun aku yang memaksamu menikahi Maria. Tapi rasa cemburuku ketika kau berada dalam kamar dengannya itu datang begitu saja. Inilah cinta. Tanpa rasa cemburu cinta tiada.”

“Aku takut sebenarnya aku tidak pantas dicintai siapa-siapa.”

“Tidak Fahri. Kalau seluruh dunia ini membencimu aku tetap akan setia mencintaimu.”

“Terima kasih atas segala ketulusanmu Aisha. Aku akan berusaha membalas cintamu dengan sebaik-baiknya. Aisha, sebentar lagi aku harus kembali ke penjara. Aku belum menjelaskan keadaanku pada Maria. Kaulah nanti yang pelan-pelan menjelaskan padanya semuanya. Kau jangan ragu, Maria sangat menghormatimu.”

Dan apa yang terjadi selanjutnya? Apakah maria akan sehat dan kembali seperti semula, atau dia harus menemui penciptanya dan harus pergi untuk selamanya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here