Review Buku Novel Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 Habiburrahman El Shirazy

2
152

Ketika Cinta Bertasbih – Hay sobat, Alhamdulillah setelah beberapa hari yang lalu merampungkan membaca novel karya kang Abik yang sudah terkenal beberapa tahun lalu, dan saya baru kemaren baca novelnya hehe.

Karena memang baru beberapa hari ini saya mulai suka karya sastra, kalau sebelumnya saya memang sudah suka membaca, sayangnya yang saya baca adalah mengenai computer, programming dan blogger.

BTW asyik juga ya sobt membaca karya sastra itu. Jujur saja saya itu jarang sekali membaca karya sastra, atau bahkan belum pernah sama sekali membaca karya sastra, kecuali saat SMK dulu saat sahabat saya menulis sebuah cerita yang akan di lombakan, totalnya ada dua novel yang saya baca, menurut saya dia itu berbakat, hanya saja dia tak mau mengembangkannya dan terlalu minder dengan potensinya.

Kebetulan saya yang nulis dia yang ngarang. Insyaa Allah salah satu novel karyanya ada di blog ini. Bisa sobat baca di siniCinta Suci Royan dan Aisyah.

Oh iya hampir lupa disini saya akan sedikit mereview novel Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2, nah kebetulan ada kisah menarik menurut saya didalam karya novel ini. Salah satunya ya Khairul Azzam yang merupakan mahasiswa di Universitas Al-Azhar.

Selain sebagai mahasiswa dia juga aktif dalam ber entrepreneur, yaps tentu saja dia melakukan hal ini tak lain dan tak bukan karena selain kewajibannya untuk belajar di negeri orang, dia juga berkewajiban dalam menafkahi Ibu dan Ketiga adik perempuannya di tanah air tercintanya di Indonesia.

Hal ini dia lakukan karena setahun setelah dia tinggal di Mesir sebuah ujian menimpanya, Ayahnya yang merupakan tulang punggung keluarganya meninggal dunia, sehingga dia harus mengambil alih tugas ayahnya tersebut.

Sosok Khairul Azzam merupakan mahasiswa yang sangat pintar, diawal pendidikannya di Universitas Al Azhar dia mendapat predikat Jayyid Jiddan atau mahasiswa terbaik.

Namun sayangnya dia harus membagi fokus belajarnya untuk membuat tempe dan bakso untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya di tanah air.

Sehingga ditahun berikutnya membuat dia tidak fokus dan membuat nilainya menurun, sehingga untuk menyelesaikan S1 nya saja di membutuhkan waktu selama kurang lebih 9 tahun di mesir.

Kamu yang belum baca novel ini, saya sangat recomendasikan untuk kamu baca deh, sungguh sangat membangun jiwa bener karya kang Abik ini.

Selain kisah Azzam ada juga kisah kisah menarik teman teman nya di dalam flat tempat tinggalnya, salah satunya adalah kisahnya Fadhil yang memilukan, dengan kisah cintanya dengan Tiara yang pada akhirnya Tiara harus menikah dengan sahabatnya sendiri di pesantren dahulu.

Dan tidak kalah serunya kisah cinta Hafez pada Cut Mala yang merupakan adik kandung Fadhil.

Berikut sebagian cuplikannya tentang Kisah Fadhil dan Tiara

“Sementara di Mutsallats, Fadhil didera oleh rasa penyesalan mendalam atas sarannya kepada Tiara. Apalagi setelah tahu bahwa Tiara sebenarnya sangat mengharapkannya. Ia merasa, sebenarnya ia bisa meralat perkataannya secepatnya.

Namun rasa tinggi hatinyalah yang mencegahnya. Ia berteduh di bawah alasan seorang lelaki tidak akan mencabut apa yang telah dikatakannya. Kini kata hatinya tidak bisa diingkarinya.

Ia sebenarnya juga mengharapkan hal yang sama dari Tiara.

Ia merasa telah melakukan satu kesalahan tak termaafkan dengan menegaskan agar Tiara tidak menolak lamaran Zulkifli.

Ia menyesal, tapi tak berdaya.

Sebenarnya, yang lebih bijak menurutnya, setelah ia tahu Tiara mencintainya, adalah memberikan kebebasan kepada Tiara untuk memberikan pilihannya. Ia tetap memberikan kesaksian yang adil tentang kredibilitas Zulkifli, temannya dipesantren dulu. Namun ia juga memberikan ruang yang terbuka kepada dirinya sendiri untuk dipilih oleh orang yang mencintainya.

Tadi sore Cut Mala, adiknya, menelpon dirinya bahwa Tiara sudah menerima lamaran Zulkifli. Pernikahan akan diselenggarakan setelah ujian. Ayah Tiara, Zulkifli dan ayah ibunya akan datang ke Cairo. Pernikahan akan dia-dakan di Cairo. Dan seluruh anggota KMA nanti pasti akan diminta untuk membantu mengurus segalanya. Fadhil terbakar oleh rasa penyesalannya. Ia adalah koordinator sekaligus vokal grup nasyid Nanggroe Voice yang menjadi kebanggaan warga KMA di Cairo. Pastilah ia nanti akan diminta menjadi penghibur dalam pesta walimah Tiara dan Zulkifli. Hatinya terasa perih. Ia ber-tanya pada dirinya sendiri, apakah ia mampu menghadapi hal itu. Batinnya pilu. Ya. Di dadanya, beribu-ribu genderang kepiluan mengalun bertalu-talu.

Fadhil mondar-mandir sendirian di kamarnya. Sejak pulang dari rumah sakit ia tidak pergi ke mana-mana kecuali kemasjid yang tak jauh dari apartemennya. Segala perkembangan yang terjadi di dunia luar ia ikuti dari cerita teman-temannya. Ia kelihatan tenang, tak ada yang tahu kalau dia sedang didera pilu tiada tara. Adiknya pun tak tahu kalau ia sejatinya sedang membutuhkan pelipur lara. Cinta yang tak berlabuh di tempatnya, sungguh menyiksa.

Fadhil menatap diktat-diktat kuliahnya dengan pandangan hampa. Tak ada semangat membara untuk mengu-nyahnya seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak ada target yang melecut seperti biasanya. Beberapa kali ia mengutuk dirinya sendiri, betapa dungu akal pikirannya. Terkadang muncul rasa berdaya, rasa bisa mengatasi segala, rasa untuk tidak mundur dari apa yang telah diputuskannya.

Namun rasa menyesal datang bagai badai yang membuatnya terpelanting tiada berdaya. Lebih dari itu, ia juga didera rasa berdosa, “Pastilah Tiara merasakan sakit yang lebih dari yang aku rasa. Pastilah ia merasakan kekecewaan tiada terkira!” Ia meratap sendiri. Ia berharap andai waktu bisa diputar ke belakang beberapa hari saja. Ia akan melamar Tiara sebelum gadis itu mengabar-kan dilamar oleh orang lain. Andai saja…

Tiba-tiba ia ingat beberapa tahun yang lalu sebelum ia berangkat ke Mesir. Setelah lulus dari pesantren, ia ditugaskan untuk mengabdi di Pesantren Daarul Hikmah, Meulaboh.

Ia mengajar hanya setengah tahun. Mengajar di kelas dua Madrasah Aliyah. Di kelas itulah ia menemukan murid perempuan yang cerdas dengan wajah biasa saja, tapi memiliki pesona yang kuat. Murid itu adalah Tiara. Setelah itu ia pergi ke Mesir.

Tak disangka ternyata Tiara menyusulnya kuliah di Cairo. Dialah yang dulu ke sana kemari mengurus administrasi Tiara masuk Al Azhar University. Dia pula yang mencarikan rumah. Dia pula yang mempertemukan Tiara dengan Madam Zubaida pemilik flat mewah di Masakin itu. Sehingga akhirnya Tiara dan teman-temannya pin-dah ke flat itu sampai sekarang. Dia pula yang mengusahakan Tiara bisa mendapat beasiswa.

Dan tatkala Cut Mala datang, ia titipkan adiknya itu pada Tiara. Selama ini ia bersikap wajar dan biasa. Ia tidak mengisyaratkan rasa simpatik dan tertariknya pada Tiara. Apalagi isyarat cinta. Namun sungguh, ia tidak bisa membohongi hati-nya sendiri bahwa sejak mengajar di pesantren dulu, ia sudah menaruh hormat, bangga dan juga cinta pada mahasiswi Al Azhar yang memiliki lesung pipi kalau tersenyum itu. Ia mengenang sejuta ke-nangan dengan hati tak tenang. Amboi…

Mengingat itu semua jiwanya seperti terbakar. Api penyesalan, api kecemburuan, api cinta tak kesampaian, api pembodohan atas keputusan diri sendiri yang tak berpenghabisan, semuanya menyatu jadi satu, membumbung ke awan biru.

“Astaghfirullaaah!!” Fadhil menjerit dan meninjukan tangannya ke tembok kamarnya. Ia merasa hatinya seakan mau pecah dan hancur. Ia lalu duduk perlahan, sejurus kemudian menelentangkan tubuhnya di atas karpet. Air matanya bercucuran. Wajah Tiara berkelebatan di pikiran. Setiap kali datang berkelebat, seolah menancapkan satu duri di hati. Terasa perih dan nyeri. Telpon di ruang tamu berdering-dering.

Ia berdiri pelan-pelan. Begitu ia angkat, telpon itu mati. Ia menghela nafas dalam-dalam. Ia letakkan gagang telpon itu kembali. Telpon berdering lagi.”

Saat membaca kisahnya Fadhil dan Tiara ini entah kenapa saya bisa takut, salah satunya takut kehilangan orang yang kucintai.. huss

Dan untuk review novel nya yang edisi keduanya juga tak kalah menariknya, disinilah dimana Azzam pulang dan merintis sebuah usaha, melepas kerinduannya kepada sang Ibu dan ketiga adik perempuannya. Yang berkat usahanya selama di mesir dia dapat membantu adik adiknya sukses.

Husna yang merupakan Adik yang paling tua telah sukses menjadi Dosen Psikolog dan penulis buku best seller dengan judul “Menari bersama ombak” dan Lia yang juga telah meraih impiannya dan adik kecilnya yang sedang belajar di pondok Alquran.

Disini pulalah Azzam berikhtiar mencari jodohnya kesana kemari, hingga suatu ketika dia hendak menikah dengan gadis cantik yang juga merupakan seorang dokter bernama Vivi. disaat bersamaan adiknya Ayatul Husna yang juga dilamar oleh Ustad Ilyas dan mereka hendak menikah.

Hingga pada suatu hari, saat gerimis berjatuhan sang Ibu mengajak Azzam untuk pergi kerumah Kiai Lutfi yang merupakan Abahnya Anna untuk menjadi pengisi acara pengajian di pesta pernikahan adiknya dan acara syukurannya.

Namun saat mereka sampai kerumah Kiayi Lutfi, ternyata Kiayi Lutfi berhalangan dan menolak tawaran mereka dalam mengisi pengajian dengan sangat halus. Sehingga mereka pergi ketempat Kiayi yang disarankan oleh Kiayi Lutfi.

Saat Azzam dan Ibunya menuju lokasi, mereka mengalami kecelakaan, yang membuat Ibu Azzam meninggal dan membuat Kaki Azzam patah, sehingga pernikahan adiknya Ayatul Husna harus di batalkan dan syukuran pernikahannya dengan Vivi harus di batalkannya pula.

Dan kamu pasti penasarankan bagaimana lanjutan dari kisah Ayatul Husna dengan Ustad Ilyas, dan bagaimana ceritanya hingga Azzam akhirnya menikah dengan Anna putri dari Kiayi Lutfi, mengapa tidak dengan Vivi?

Hmm silahkan kamu baca sendiri deh, eits BTW saya masih kepikiran dengan Si Fadhil dan Tiara nih sobat.

Oh iya jika sudah membaca Novel Ini dari edisi satu hingga dua, sobat bisa membaca kelanjutannya di novel Dari Sujud Kesujud.

Semoga bermanfaat

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here