Kenalan

Assalamu’alaikum wr wb

Perkenalkan, Nama saya Muhammad Reza Ichsani, lahir di Kota Jember pada 08 Februari 1998. Saya lahir dari pasangan Seorang Ayah bernama (Alm) Abdul Rohman dan seorang Ibunda bernama Solehati.

Saya memiliki 5 saudara/i, dan saya merupakan anak keempat dan termasuk anak laki-laki pertama dari kelima saudara/i saya.

Saya memiliki 3 kakak perempuan bernama (Alm) Titik Yusmindari, beliau meninggal saat hendak menikah setelah dari pondok pesantren, kemudian adiknya bernama Qurrota A’yun, seorang kakak yang paling pandai membantu saya ketika mengerjakan tugas PR dari sekolah, dan adiknya bernama Arifatus Sholihah, yang merupakan kakak saya yang paling setia menemani saya kesekolah saat SD, dan juga paling banyak memberikan masukan dan nasehat untuk saya hingga saat ini..

Kemudian Adiknya bernama Muhammad Reza Ichsani (saya sendiri) yang nggak tau gimana sifat dan bentuknya, Insyaa Allah ganteng dan baik orangnya XD.. Lalu disusul oleh adiknya yang bernama Muhammad Fahmi Romadhony.. Yang merupakan anak paling keativ didalam keluarga kami tapi juga merupakan anak paling nakal dan paling ngeyel kalau di bilangin.

Kami hidup dengan sederhana di sebuah desa bernama Rambutan Selatan, yang berada di Kota Jember.

Saya bersyukur bisa hidup dan menjadi salah satu bagian dari keluarga ini, hidup sederhana, nggak kaya namun juga nggak pernah kurang soal rezeki dan soal makan tiap harinya..

Ibu saya yang selalu menyemangati saya, dan beliu selalu memotivasi saya setiap harinya, Ibu saya itu orangnya galak banget, apalagi kalau soal urusan Agama misalnya, walau Ibu saya bukan lulusan pesantren tapi beliau sangat paham betul soal kewajiban menjadi seorang muslim.

Dulu sekali saat saya masih SD, waktu itu saya males sekolah madrasah, jadi saya nggak mau sekolah, eh Ibu saya langsung ngancem saya pake golok, katanya kalau nggak mau sekolah madrasah saya mau di Golok :v

Nakutin kan hehe, tapi ya beruntunglah saya punya Ibu yang mendidik anak-nya dengan keras demi kebaikan, dan menyayangi anaknya dengan sangat lembut saat melaksanakan sebuah kewajibannya..

Walau begitu, saya masih menyesal karena ketika saat sudah SMP Ayah saya menyuruh saya Mondok biar kayak kakak-kakak saya, saya malah menolak mondok, eh sekarang baru nyesel… (kasian deh lu)

Saat saya bercerita penyesalan kepada Ibu saya, dan bercerita ingin mondok, Ibu saya lalu menjawab, “Karena Ayah kamu sudah nggak ada, dan karena kamu merupakan satu-satunya tulang punggung keluarga saat ini, nggak apa-apa nggak mondok, suruh siapa dulu nggak mau, sekarang baru nyesel kan?.. sekarang kamu bekerja lah yang baik, tunaikan kewajiban yang kamu pahami.. kamu juga sudah besar, nggak apa-apa kalau kamu sekarang nggak mondok nggak masalah, yang penting nanti Adik kamu nanti pondokkan, Insyaa Allah berkahnya ke kamu juga” begitu kata Ibu saya 🙁 oh saya sangat terharu..

(INI KENALAN APA CURHAT SIH XD)

Ya mungkin itu saja sih.. mungkin soal pendidikan nggak perlu lah saya jelaskan, nggak guna juga dijelasin

Terima kasih, Wassalamu’alaikum wr wb