Kangen Kota Malang Gaes – Edisi Bermalam di Terminal Arjosari

0
63

Malang, adalah sebuah kota di barat sana, sebuah kota tempat aku singgah yang akhir akhir ini aku rindukan. Kota Malang memang sangat terkenal dengan ke eksotisannya, dengan segala keindahannya seakan mampu menyihir siapapun yang pernah kesana akan merindukannya untuk kembali.

Tidur Di Musholla Terminal Arjosari

Bukan hanya keindahan saja bagiku yang membuatku ingin berkunjung kesana, bahkan ada sekelumit pikiran ingin tinggal disana.

Selain keindahan dan kesejukan alamnya, juga terdapat pengalaman yang indah disana (kuduk pacaran) yakni ketika aku liburan kerja, kemudian aku pulang kerumah, saat tiba waktu kembali, aku naik bus sengaja aku balik sore hari.

Menaiki bus dari kota Jember yang merupakan kota kelahiranku menuju Kota Malang. Selama di perjalanan melewati Lumajang, Probolinggo, Pasuruan hingga Pandaan dan akhirnya sampailah di Kota Malang.

Waktu itu saya sampai di Malang sekitar pukul 21.00 sudah tidak ada angkot rupanya. Aku putuskan untuk makan bekal yang di bawakan oleh Emak tadi siang. Di depan musholla aku menyantap makanan itu. Nikmat sekali. Selesai makan aku nggan kemana mana, aku putuskan tidur disana didepan musholla di dalam terminal arjosari.

Ada beberapa orang disana yang tertidur, awalnya aku bingung takutnya nanti diusir suruh pergi. Ternyata masih aman, aku putuskan tidur hingga pukul 23.00 aku terbangun, aku putuskan pergi ke tempat meja tunggu, aku masih ngantuk. Aku lihat masih ada yang tidur di Musholla, ah berarti tidur di sana diperbolehkan. Aku putuskan kembali untuk tidur di depan musholla tanpa alas, terasa begitu dingin. Tau sendiri bagi pendatang udara Malang seperti apa rasanya di malam hari, terutama bagiku yang sebelum di Malang tingga di Surabaya selama hampir 2 tahun, tentunya udara Malang mengejutkanku.

Ada pesan di whatsapku, bertanya aku sedang di mana? Aku balas pesan itu bahwasanya aku sudah berada di kontrakan. Dia rupanya tidak percaya, bahkan dia menyuruhku memotret kontrakan memastikan aku ada disana. Entah mengapa dia begitu. Ah aku masih ngantuk aku tertidur di musholla hingga pukul 01.00

Saat aku terbangun, eh ada penjaga musholla menyuruh beberapa orang yang tidur di depan musholla untuk pergi meninggalkan musholla. Dalam hatiku rada rada jengkel. Tapi itulah kewajiban dia memastikan musholla aman, sebuah alasan yang bisa di benarkan.

Aku pindah di kursi tunggu, mencoba tidur disana, tidak terasa nyaman sekali, kursinya terbuat dari besi sangat dingin, aku mulai memasang kaos kaki dan jaket bahkan syalku aku bungkuskan keseluruh tubuhku.

Percuma saja, masih terasa dingin. Aku berusaha tidur, dan sejenak aku tertidur. Tak lama beberapa menit kemudian aku terbangun, rasanya sungguh tidak nyaman sekali. Kau melirik orang di sekitarku, sedikit takut, bukan pada hantu namun pada orang orang di sekelilingku. Mungkin ada preman disana. Ah aku mulai ngantuk lagi, bodoh amat walau ada preman aku tak peduli, aku mulai membenarkan badanku dan tidur lagi, aku berfikir aku tak gentar dengan manusia, sama sama ciptaan Allah.

Sampai pukul 03.00 aku bolak balik terbangun dan tertidur lagi. Hingga waktu subuh berkumandang aku kembali ke Musholla, mengambil air wudlu yang terasa seperti memegang es yang mencair, bahkan ketika ku usapkan ke wajah terasa membeku seluruh mukaku.

Setelah selesai aku beranjak ke dalam musholla sholat dua rokaat kemudian berlanjut untuk menunaikan sholat berjamah.

Setelah selesai aku beranjak pergi menuju pintu keluar bus di depan terminal. Aku mencari angkot terdekat menuju kontrakan. Yaps ketemu angkot bertuliskan kode AMG adalah angkot yang melewati kontrakanku.

Sesampainya disana aku buka pesan di hp, ah orang yang sama. Baiklah kali ini alu jujur kalau tadi malam aku tidur di terminal. Hal itu memang sengaja tak ku beritahu selama di sana. Tidur di terminal juga sudah aku planning ketika dirumah. Biar selama di Malang ada kesannya gituh, dan tentu saja hari ini aku merindukannya.

Ini yang Part I, ada hal lainnya yang membuatku rindu Malang, salah satunya saat ngobrol dengan ojek online yang tiba – tiba mendoakanku agar mempunyai istri orang Malang, nasehat dari bapak driver grab paruh baya, maen di Sumber Sira, ngetrail dari sawojajar ke singosari, perjalanan mengambil susu sapi, tentang teman saya, Masjid Manarul Islam, toko buku Al Quds, pasar buku, UNBRA, perjalanan ke Batu, Maen di Bromo, ikut maen sepeda, Bakso Mbah – Mbah, Belajar Bareng Anak PKL, Indahnya Batu dari kontrakanku, pergi kerumah seseorang tanpa alamat dan peta hanya menggunakan insting, dan lain lain tentunya banyak kisah seru di sana. Dan tentunya akan aku ceritakan di cerita selanjutnya. Insyaa Allah

Namun walaupun begitu, bagaimanapun juga Jember adalah kota kelahiranku, tentu saja Kota Jember masih yang terbaik dari seluruh kota lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here