Cinta Suci Royan dan Aisyah

0
52

Cinta Suci Royan dan Aisyah – Pada suatu  malam Royan pergi ke suatu desa bersama Kakaknya, sekedar menghilangkan rasa kantuk, disebuah gubuk kecil Royan mendengar suara isak tangisan, dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dengan rasa penasaran Royan memberanikan untuk mengangkat bicara.

“Mas dari tadi, Mas dengar suara tangisan gak?”

“Mas sudah paham dan mengerti Dek, setiap malam daerah kompleks sini memang selalu terdengar seorang Gadis melantunkan ayat suci Al-Qur’an sambil menangis dari sangking gemetarnya..!”

“coba Mas dengarkan suaranya, begitu merdu”

“ya, Mas dengar, suara Gadis itu sungguh mengesankan keteduhan, kenyamanan dan ketentraman dihati pendengar”

“Mas, hatiku sungguh terasa nyaman, teduh darah berdesis seakan dingin.”

“tapi Dek, Gadis itu sungguh menderita”

“menderita ya apa Mas?”

“begini Dek..! karena Ade’ baru menginjak tanah Indonesia jadi, tidak tau dengan penderitaan Gadis itu!, boleh ya sedikit mas bercerita?, makanya jangan lama-lama dikairo”

“tentu Boleh Mas, silahkan langsung saja cerita”

“Gadis itu menderita penyakit, hingga rambutnyapun bersih… Ibunya meninggal dunia, bapaknya menikah lagi dan tinggal bersama istri barunya. Gadis itu tinggal dengan seorang Nenek yang sudah sangat renta, setiap hari Gadis itu yang merawat sang Nenek, penglihatannya sudah kabur dan pendengarannyapun tak tajam lagi. Makananpun sering kekurangan, tapi Gadis itu begitu sabar berjuang mengarungi hidup dengan sang Nenek yang begitu ia sayang.”

“Ya Allah, Mas begitu sabar Gadis itu”

“ya itu kelebihannya, padahal coba lihat gubuknya saja terlihat sangat tua hampir mau roboh, seminggu sebelumnya rumah itu mau dibedah, tapi sang Gadis itu menoalak dengan lembut, jawaban gadies itu “saya lebih bahagia tinggal digubuk kecil ini, karena selalu ku ingat segala kenangan bersama Ibu dan Bapak begitupula dengan Nenek, selama gentengnya tidak bocor tidak masalah bagi saya, yang penting kami berdua bisa tidur dengan nyenyak!.” Begitulah ceritanya”.

“kasihan banget Mas” gumam Royan.

“hemmz, begitulah Dek”.

Keesokan harinya….. Sinar mentari enggan untuk muncul!, awan hitam bergelantungan, suara Guntur menderu-deru, perlahan rintik-rintik hujan turun membuat Aisyah kebingungan untuk membenahi gentengnya yang bocor. Hujan semakin deras, Aisyah segera menaiki tangga membenahi satu-persatu genteng yang pecah digantinya dengan sisa-sisa triplek rusak. Aisyah kedinginan, bergegas Aisyah menuruni tangga dan segera memasuki gubuk, ternyata kasurnya telah basah kuyub.

“Ya Allah kenapa saya harus lupa dengan genteng kamar, bagaimana Nenek mau tidur sedangkan kasur satu-satunya sudah basah kuyub, mau ngebetulin lagi takut ada petir”

Lama kemudian Royan segera mengetuk daun pintu gubuk Aisyah, perlahan Aisyah membukanya dengan rasa takut.

“Assalamu’alaikum…” Royan gemetar karena kedinginan.

“Wa’alaikumsalam…” jawab Aisyah dengan gemetar tak kalah dengan Royan.

“ada yang mau dibetulin gentengnya Mbak?”

“ada, ada Mas!”

Aisyah segera menunjukkan genteng kamarnya yang bocor. Royan segera menaiki tangga dan membenahinya. Tak lama kemudian Royan memasuki gubuk Aisyah dengan gemetar, segera Aisyah menyuguhi kopi hangat. Royan dengan semangat menyeruput kopi hangat dari Aisyah.! Setelah hujan cukup pedat Aisyah berkali-kali berucap terima kasih, Royanpun pamit pulang

Aisyah sangat sedih melihat Neneknya yang kedinginan tidur diatas kursi panjang yang terbuat dari bambu dengan selimut sarung yang sudah lusuh, bibirnya gemetar kedinginan. Aisyah menangis dengan kemudian segera memeluk Neneknya. Aisyah menghidupkan tiga buah lilin didekat Neneknya untuk menghangatkan tubuhnya yang dingin kaku.

Keesokan harinya Aisyah menjemur kasur yang kuyub dengan berharap hujan tak segera turun.

“Syah…” panggil sang Nenek

“iya nek” jawab Aisyah

“Nenek laper” desah sang Nenek

“ya nek, tunggu sebentar”

Bergegas Aisyah memeriksa gentong beras, Aisyah menangis ketika melihat gentong berasnya kosong tanpa tersisa sedikitpun.

“akupun juga laper nek..” gerutu Aisyah dibatinnya.

“syah…. Perut Nenek keroncongan”

“iya nek, Aisyah lagi masak”

“ma’afkan saya nek!, terpaksa Aisyah berbohong, karena Aisyah tidak ingin membuat Nenek sedih” gumam Aisyah dibatinnya.

Aisyah segera berlari kerumah tetangga sebelahnya untuk minta nasi, kebetulan tetangga sebelahnya mendapat banyak berkatan dari kondangan 40 harian. Tetangga Aisyah menyambut dengan hangat, akhirnya berkatan yang berlebihan tidak kebuang begitu saja. Aisyah sangat bersyukur mendapat nasi berkat.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak Bu’Lee”

“iya Ndok sama-sama”

 Aisyahpun segera pulang dan segera menyuapin Neneknya yang dari tadi perutnya kosong.

“Syah, kamu juga sarapan kan syah?..”

“iya nek, Aisyah juga sarapan.”

“kok terasa dingin nasinya syah?, bukannya barusan kamu masak?”

“ma’af nek minyak tanahnya habis, terpaksa mak sisa yang dari tadi pagi. Jadi Aisyah mengurungkan niat untuk masak”

“hemmz” Neneknya tersenyum mendengar cerita Aisyah.

“ma’afkan saya nek, Aisyah harus berbohong lagi” lirih Aisyah dalam hati.

Kemalam harinya, Aisyah bercermin melepas kerudungnya dengan sangat pelan.

“Alhamdulillah, saya sudah sembuh dari penyakit keras itu (leukemia), itu semua keajaiban Allah. Ternyata Allah masih memberikan kesempatan kepadaku untuk memperbaiki ibadahku dan memperbanyak amal shaleh” 

seraya memebelai-belai kepalanya yang botak (bersih mengkilap), mendengar suara ketukan pintu Aisyah segera menyambar kerudung lalu kemudian membuka daun pintu dengan sangat pelan.

“Assalamu’alaikum” Royan dan Azka berucap salam secara bersamaan.

“Wa’alaikumsalam” jawab Aisyah, gugup jantungnyapun berdegup kencang.

Merekapun masuk dan menduduki kursi yang terbuat dari bambu, Aisyah menyuguhi makanan ringan, sekedar kripik singkong dan kopi hangat. Setelah berbincang-bincang cukup lama Azka perlahan menyampaikan kata-kata bijak sebagai wakil Abanya.

“Aisyah.. adek saya Royan ingin melamarmu, dia sangat mencintaimu.”

“Gadis seperti saya tak pantas dicintai Mas, bukannya mas sudah tau, kalau saya tidak punya rambut, rumah saja hampir roboh, sering kebocoran, keseharianyapun selalu kekurangan, saya menyarankan lebih baik mas mencari yang lebih sempurnadan yang lebih baik dari saya”

Royan memberanikan diri angkat bicara

“Aisyah.. aku mencintaimu, penghuni gubuk ini..! aku mencinti akhlaqmu, aku tidak pandang harta, benda, rambut dan lain sebagainya. Tapi ketahuilah aku hanya memandang hatimu Ahlaqul Karimah yang selalu kau terapkan, kaulah agen muslim yang baik, walau menyimpan ribuan kedukaan tapi yang kau tebarkan adalah senyuman. Itulah yang membuatku semakin jatuh hati padamu, kumohon Aisyah, bersedialah menjadi pendamping hidupku. Kau adalah wanita pilihanku, karena kau perhiasan dunia dan Akhirat bagiku dan kau juga wanita sholehah itu” 

Aisyah tak bisa berhenti menangis karena haru.

“Mas dari keluarga terhormat yang memiliki panti asuhan yang begitu disegani masyarakat, apa Mas rela memilih calon sepertiku yang hanya tinggal disebuah gubuk kecil dan hidupnya kurang dari kecukupan”

“Aisyah, perlu kau sadari, kau wanita yang sangat muliabagiku, dengarkan kata-kataku, jangan kau selalu merendahkan diri…! Aku akan menerima kamu apa adanya dan aku ingin kita segera tunangan dan kau dan Neneknya tinggal bersamaku”

“Baiklah Mas, beri aku waktu untuk sholat istikhoroh dulu, jangan mengambil keputusan terlalu cepat, 3 hari cukup bagiku untuk berfikir dan menentukan melalui petunjuk sang Maha Pemberi Hidayah”

Royanpun sangat gembira mendengar ungkapan terakhir dari Aisyah. 3 hari kemudian Aisyah mendapat mimpi yang sangat indah dan petunjuk melalui sholat istikhoroh dengan membaca Ayat-ayat suci Al-Qur’an. Aisyah menyampaikan petunjuk dari sang Maha Pemberi Hidayah melalui Azka, untuk disampaikan ke Royan. Royanpun sangat bahagia, akhirnya dia bisa memiliki wanita shalehah itu…!

“enak kan de’… dia lho kecantikan dan keanggunannya sungguh luar biasa, saya acungkan jempol 4” Azka mengacungkan ke2 jempolnya.

“perasaan 2 deh mas.!”

“tambah jempol kaki 2, jadi semuanya empat”

“ada-ada saja deh mas!, tapi no1 yang kupilih hatinyakan bukan kecantikannya”

“tapi izinkan mas komen dulu, Aisyah ini layaknya bidadari syurga, betul nak betul”

“alah mas, biasa-biasa aja” timpal Aisyah, polos

Ba’da dhuhur adalah  acara pertunangan Royan dengan Aisyah… Aisyah didampingi ayah dan ibu tirinya dan tak lupa pula Neneknya menuju dhalem Royan.

Sesampainya didepan rumahnya,… begitu Aisyah turun dari mobil, diiringi familynya, anak-anak panti menyambut hangat kedatangan Aisyah, seraya berteriak memanggil “Ummi….….”  Mereka semua menghambur mendekati Aisyah, melingkar bentuk love , Aisyah duduk bersimpuh  memeluk mereka bergantian. Aisyah tersenyum bahagia dan menciumi anak-anak kecil.sedangkan family aisyah berbaris ber bentuk I. dengan kemudian family royan baris melengkung berbentuk U,. jadi semuanya berbentuk serangkai I         U

“mungkin Umi inilah yang sering Abi Royan ceritakan kepada kita” timpal salah satu dari mereka.

“iya temen-temen, lihatlah Umi ini begitu cantik selalu ceria…” balas salah satunya

“memang Abinya cerita apa?” goda Aisyah.

“Abi cerita tentang Umi dan bilang kalau kita akan segera punya Umi muda yang sangat cantik” 

Aisyah tersenyum geli..

Lama kemudian Royan menyamperinya aisyah yang berada di tengah-tengah  kerumunan anak panti yang berbentuk love.   Royan  mengulurkan kedua tangannya untuk membangunkan Aisyah dari duduknya.. Aisyahpun bangun memegang kedua tangan Royan dengan lembut, ditengah-tengah persaksian Family dan anak-anak panti tercinta, Royan memasukkan cincin kejari manis milik Aisyah, begitu juga balas Aisyah. Yang  juga memasukkan cincin kejari manis milik Royan, keduanya pun berpegangan erat, dengan lembut Aisyah mengahambur kepelukan Royan., Dengan dada bidang Royan tersenyum mendekap Aisyah kepelukannya…

Mereka berdua itupun berucap

“Umi, Abi, Ibu, Bapak, Nenek! Dan saudara-saudaraku dan juga adik-adik panti yang aku sayangi. Restui kami!… do’akan kami untuk menjadi pasangan yang sejati! ” anak-anak panti menghambur saling berpelukan dan berteriak

“do’a kami selalu menyertai Umi dan Abi…”

“kami akan mendo’akan putra putri kami untuk menjadi pasangan sejati “ucap ke dua pihak serentak.

canda tawa, haru, bahagiapun menghiasi hari ini… Mentaripun seakan juga ikut tersenyum.

Hening sejenak, hanya do’a dan dzikir yang tercipta, baju yang dipakai semua berwarna putih, melambangkan kesucian….!

Begitulah cinta suci Royan dan Aisyah

Cerita by : Nur Hasiyah Jamil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here