Jalan – Jalan di Gunung Bromo, Hmm pada hari itu saya dan teman-teman kerja di sebuah jasa rental motor di Kota Malang mengadakan sebuah planning. Yupss bromolah tujuan akhir bulan kita bareng temen-temen.

Kenapa kita memilih bromo? jawabannya pun saya tak tahu, pokok ada tempat tujuan kesana, kita Go saja. Sebelumnya kami bersama temen – temen sudah merencanakan hal ini sebulan sebelum keberangkatan, bahkan hampir setahun. Namun apa daya semua hanya harapan belaka. Ditambah keadaan saya yang semakin KO gara gara habis terjatuh sakit hati… eh sakit kelelahan seh.

Akhirnya karena kegagalan planning tersebut saya bersama temen-temen merencakan ulang planning ke bromo setelah planning sebelumnya gagal total.

Beberapa hari kemudian saya dan teman-teman saya merencakan ulang untuk ke Bromo, siang malam saya berdoa agar tak gagal lagi wkwk. Akhirnya pada hari yang di nanti-nanti kami pun jadi dan berangkat sekitar pukul jam 21.00. Padahal untuk dapat melihat sunrise setidaknya berangkatnya jam 03.00 pagi. Ya mungkin saking semangatnya.

Sampe-sampe lupa makan sebelum berangkat, berangkat pun apa adanya, bensin seadanya, baju dan celana seadanya, uang secukupnya dan pasangan pun tak ada wkwkw.

Secuil Cerita Sebelum Menuju Gunung Bromo

Secuil cerita tak seindah secuil rindu, namun secuil rindu juga tak seenak secuil roti. Maksudnya saya pun tak paham. Intinya saat sebelum menuju ke Gunung bromo kami berempat, eh berlima kalau tak salah, sejenak mampir di sebuah warung yang bernama Warung GSS, berlokasi di pinggir jalan di jalan mau ke Bromo dan Semeru. Tapi saya tak tau namanya, pokoknya kamu kalau nyari cari aja di pinggir jalan. In Syaa Allah nanti akan ketemu sendiri disana.

Saat di Warung GSS ini saya dan teman-teman saya termenung menikmati makanan malam yang di temani dengan hembusan rindu yang disampaikan oleh angin yang bersilir-silir dari segala arah. wkwk kok jadi puitis gini sih.

Yups hidangan makanan yang begitu mewah, dan hot pokoknya hingga membuat saya tak bisa tidur semalaman hingga pagi.

Hingga tiba waktu sudah menunjukkan pukul 02.30, kami semua bergegas siap-siap menuju gunung bromo, tentunya dengan bekal seadanya. Tak peduli dingin atau apalah, yang penting nanti bisa menyaksikan indahnya sinar mentari terbit. Begitulah menurutku.

Oh iya sebelumnya nih kenalin teman-teman saya yang ikut trip ke Gunung Bromo.

  • Orang Paling Ganteng, dia adalah (saya sendiri :v )
  • Mas Very
  • Mbak Ana
  • Mas Prass
  • Mas Yansah

Yang mereka semua adalah orang Asli Malang, kecuali saya adalah bocah Jember, oh ada satu lagi namanya mbak Ana dia dari.. dari mana lupa aku, tanya sendiri lah kalau pengin tau.

Yah selama diperjalanan menuju gunung Broo inilah yang pengin saya ceritakan kepada sobat rumput hidup.

Selama Perjalanan Menuju Tanjakan Gunung Bromo

Selama perjalanan, dimulai dari membeli tiket dari pintu masuk menuju lereng gunung bromo. Nah disinilah saya berlagak bodoh, memang sebenernya memang sudah bodoh seh, dan dari sinilah segala ketidak baikann saya lakukan. Ya sudahlah lupakan saja, saya kan masih bocah wkwkw.

Setelah beli tiket kami berlima melanjutkan perjalanan menuju Gunung Bromo, walau sebenernya tak tau mana arah ke Gunung Bromo dan mana arah yang menuju Gunung Semeru. Perjalanan lumayan lama kita jalani, ya untung saja saya dan temen-temen masing-masing ada temennya.

Selama di perjalanan hiruk pikuk dan lika-liku jalan kami susuri bersama, hingga tibalah pada waktu yang saya nanti-nanti kan, yakni kesasar tak tau arah. Sebenere tau arah sih, cumah dilema gituh kalau ada dua jalur jalan yang sama-sama meyakinkan. Karena kedilemaan itulah teman saya memutuskan untuk bertanya pada penduduk desa. Saya mah jadi orang bodoh aja pas waktu itu, yang penting apa kata temen-temen.

Begitu lama perjalanan kami jalani bareng temen-temen, setelah bertanya arah dan bertemulah dengan dua simpangan antara jalur menuju bromo dan satunya menuju semeru. Nah disini saya dilema lagi mana yang harus saya pilih antara mereka berdua, mau saya istikhorohi dulu kasian temen-temen wkwkw. Jadi kami pun bertanya lagi pada seorang penjual sarung tangan di antara persimpangan bromo dan semeru tersebut. Dan setelah mendapatkan petunjuk dari sang penjual, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju lautan pasir bromo.

Menuruni Tanjakan Yang Begitu Dingin

Disinilah hati saya mulai tersiksa, maksudnya saya nggak bisa mengendalikan hati saya, bukan karena apa, bukan karena hal-hal apa, melainkan hal tersebut karena dinginnya begitu menusuk sampe ke hati :v.

Badan tiba-tiba terasa begitu kaku, karena memang saya menggunakan pakaian seadanya. Kalau saja saya tak membonceng yang namanya Mbak Ana ini, pasti sudah saya putuskan untuk berbalik arah dan mengambil selimut saja di kontrakan.

Kala itu jalan semakin menurun, embun pun bergantian membelai kulit di seluruh tubuh, semakin dekat dengan lautan pasir bromo dinginnya pun semakin menusuk. Sampe-sampe saya berfikir, “ah mati saya ini nanti” wkwk. Karena memang saya bukan orang yang tahan dingin.

Tapi ada yang lebih saya khawatirkan lagi, yaitu teman saya yang bernama mas Prass dan Mas Yansah. Kenapa? karena mereka memang belum pernah berada di tempat sedingin itu. Tapi Alhamdulillah ternyata mereka biasa saja, dan bahkan lebih baik dari pada saya hihi.

Ceritapun berlanjut, terdapat sebuah kisah seru saat menuju tanjakan di lautan pasir

Apakah kisah seru ini?… kisah seru ini menceritakan ketika melewati lautan pasir di malam hari dengan dinginnya embun yang menggoncang belahan jiwa ini hingga bolak-balik terjatuh dari motor trail hihi.

Entah sudah berapa kali saya terjatuh, dan menjatuhkan orang yang saya bonceng.

Selain itu ada kisah seru lainnya yang tak kalah keren, yakni ketika bensin motor temen saya hampir habis di tengah-tengah lautan pasir nan luas tersebut.

Sehingga membuat kami berfikir dua kali, antara lanjut menuju tanjakan atau berhenti dan berbalik saja atau menunggu hingga matahari terbit di luatan pasir. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mencari bantuan pada beberapa jeep yang lewat untuk membeli bensin mereka. Satu persatu jeep yang kami cegat tak satupun mereka yang membawa cadangan bensin. 

Namun temen-temen saya tak putus asa sampai disitu, kenapa hanya temen saya, lah saya kok nggak bantu, iya memang saya diem di tempat nungguin motor hehe.

Akhirnya setelah teman saya berjuang mencari bantuan di tengah lautan pasir, terdapat sepasang kekasih yang hendak menuju tanjakan satu, menggunakan motor trail. Saya lupa tak tanya namanya, mereka berdua berasal dari Kota Batu. 

Akhirnya Sepasang kekasih ini berhenti dan membantu kami di tengah lautan pasir bromo. Namun kami bingung bagaimana memindahkan bensin dari motornya sepasang kekasih ini ke motor temen saya. Nah setelah berfikir agak lama, akhirnya mas yang bantu ini memutuskan sebuah selang mirip sedotan di motor trailnya yang berfungsi untuk membuang aliran bensin.

Setelah beberapa saat berusaha memindahkan bensin ini, akhirnya pun bisa di pindahkan, yakni dengan cara di sedot dan dipindahkan ke dalam botol air mineral. 

Setelah bensin berhasil di pindahkan, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Dan kami bersama dengan sepasang kekasih yang membantu kami tersebut berjalan tancap gas lagi menuju tanjakan.

Hal yang kami harapkan setelah mereka berdua menolong kami ialah bisa bersama menuju tanjakan dan berkenalan lebih jauh dengan mereka. Namun di tengah perjalanan kami terpisah oleh jarak dan embun yang menghadang. Akhirnya kamipun berpisah dengan mereka yang telah berjasa membantu kami. Tapi tak apalah biar doa yang membalas kebaikan mereka dan diberikan keselamatan hingga kembali kerumah nanti.

Sinar mentari sudah mulai menampakkan diri, pandanganpun sudah mulai terbuka dengan embun putih yang sudah menipis menunjukkan sunrise akan segera muncul dari belahan timur bumi bromo.

Karena kami tak tau jalan dan tanjakan satu sungguh masih sangat jauh, akhirnya kamipun memutuskan untuk singgah di tanjakan tiga yakni tempat alternatif selain tanjakan satu dan dua.

Setelah sampai di tanjakan tiga ini akhirnya kamipun berhasil menyaksikan matahari terbit. dan tak lupa foto-fotonya juga.

Nah berbicara tentang foto-foto berikut ini adalah kumpulan foto-foto bareng temen-temen saat di Gunung Bromo. Nggak lengkap sih cuman ya ada saja. Buat kenang-kenangan wkwkw.

Foto – Foto Saat di Bromo

Eh ternyata fotonya tinggal satu saja 🙁

Karena fotonya banyak yang kenak hapus sama saya.. Baiklah saya perkenalkan lagi ya mereka. Saya mulai dari sebelah kiri. Sebelah kiri sendiri adalah Mas Yansah, kemudian sampingnya adalah Saya yang pakai jaket dengan kaos dalam berwarna biru, kemudian samping saya yang pake selendang sarung adalah mas Very dan sampingnya lagi adalah Mas Pras, Kemudian di depan yang fotonya gimana gituh itu namanya Mbak Ana.

Silahkan boleh kenalan dengan mereka ya, yang penting jangan saya, karena mungkin saya sudah itu anu…

di Lanjut gimana ya ceritanya… yasudah ini dulu lah, nanti akan saya update lagi kalau lagi mood nulis :v

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here