Ayah

0
81

Ayah – kau tahu betapa berharganya seorang Ayah bagiku. Walau terkadang ia tak selembut seorang Ibu saat mengendalikan emosinya. Mungkin kasih sayang seorang Ibu lebih besar daripada sang Ayah.

Tapi kau tahu, betapa kusangat membutuhkan Ayah. Ayah ibarat rembulan yang Indah menerangi malamku di tengah padang pasir. Dia penggugah harapan.

Dia adalah semangat dalam dadaku, dia adalah bara api dalam hidupku. Dia bak batu karang yang tegar menghadapi ombak.

Saat yang lain mencercarku, dialah yang sanggup menepuk bahuku untuk terus berjalan. Saat yang lain tak peduli denganku, dialah yang percaya akan harapanku, walaupun terkadang dia tak paham apa maksudku, namun itulah hebatnya sang Ayah. Dia percaya darah dagingnya sanggup melakukannya.

Aku sangat merindukan sang Ayah. Ayah adalah tempat bersandarku, seorang yang setia mendengar ceritaku selama di sekolah.

Ayah, walaupun marahnya menakutkan, dia adalah orang yang menyisihkan uang 5000 untuk anaknya saat sang Ibu hanya memberi uang saku 1000 rupiah. Ia berusaha membuat anaknya tersenyum.

Ayah adalah sahabat terbaikku ketika di dunia, dia adalah orang yang berbicara menanyakan hari hari yang kujalani. Dialah yang mengerti diriku selama ini.

Entah saat ini aku begitu merindukannya, rindu beradu punggung dengannya saat kedinginan. Dia waktu itu lebih memilih tidur bersamaku dibanding dengan Ibu. Dan ternyata beberapa saat kemudian, hari hari yang kulalui bersama nya ternyata harus disudahi untuk selamanya.

Orang yang setia menepuk bahuku telah tiada. Dia yany optimis dengan tujuanku telah tiada. Aku teringat pesannya kepadaku untuk menjaga fahmi adikku dan menyekolahkannya.

Dari dia telah tiada seharusnya aku kuat menanggung ini semua. Tapi tetap saja Ibu menganggapku anak kecil yang masih tidak berdaya, menganggap tak mengerti setiap alunan kata yang diucapkan.

Padahal jauh dilubuk hatika, setiap kata yang terlontar aku paham maksudnya, tak jarang aku merasa bersalah, terpojok dan merasa disalahkan dengan perkataannya.

Ah sudahlah, walau bagaimanapun juga Ibu adalah tetap nomer satu, Ibu adalah malaikat yang nampak. Marahnya adalah kasih sayang terhadap diri ini… Yang tiada tara, tiada bandingnya…

Yaps begitulah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here